Pagi di Ruang Hati

Puntung-puntung rokok tercecer

Ampas kopi dan susu beradu memenangkan hati
Nada-nada sumbang mengisi hening

Subuh yang berbicara pada jari-jari mentari
Di pojok bambu
Berdesir kata-kata menari di hitamnya paru-paru

“Kawan, aku lupa ini hari apa.
Bolehkah kau diktekan padaku
Biar aku menenun bait doa bersama suaramu di telingaku?”

Debu bergejolak di atas tinta yang terkapar
Tudingan jiwa menyasar ke palung jiwa yang lain

Sajak-sajak tanpa judul dibicarakan di meja santap
Denting gitar mendayung pompong berisi batu karang
Mata-mata mengisi tenaga untuk terjaga.

Burung Gereja

Langit Rasa, 24 Sept 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *