Cium Tubuhku Lagi!

Kau selalu memberiku kenikmatan. Nikmat yang tidak mampu aku urai dengan kepastian. Hadirmu memang di musim-musim lembab, kau bertamu tanpa mengetuk jendela. Menyusup melalui celah yang tidak bermaksud memberikanmu ruang. Suaramu mengetuk emosi gendang telinga, mengusik lelap yang bersahaja. Kau juga menghadirkan keramaian di kelokan sunyi, ketika senja menjelma gelap.

Hidupmu tidak di atas dataran terang, tidak protes dengan fasilitas mewah, tidak pernah pula seumur hidupmu memohon kemegahan gedung-gedung. Cukup di balik rerimbunan, berpayung rerontokan reranting atau dedaunan, biarlah lumpur basah menjadi kasur, sementara tumpukan sampah di selokan-selokan, atau saluran pembuangan air dapur menjadi arena permainanmu.


Asal muasalmu memang kumuih. Menjijikkan. Hadirmu tidak pernah dinanti apalagi meninggalkan rindu usai pergimu. Kau selalu ingin ditepis, perjalananmu menyelinap masuk ke dalam istana ketika rerintik gerimis menangis di permukaan jendela itu, biarlah terlupa. Tak layak kata perjuangan apalagi pengorbanan kau rintis.
Usai kau beri perih, ada nikmat yang membekas. Jika zat yang keluar dari bibirmu digesekkan, jelas aku akan melayang. Luka-luka hilang. Dan percaya atau tidak percaya cairan beracunmu itu mampu mengalihkan perasaanku yang sedang terluka. Patah hati sejenak lenyap, emosi kalap.
Seharusnya sudah menjadi kewajiban diriku mengucap pujian terima kasih dan rayuan manis padamu. Kau menenggelamkan amarah-amarah majikan di tanggal penghabisan. Kau pun berjasa mengusir perasaan tidak nyaman yang mengganjal di palung-palung rasa. Maka untuk malam ini, aku mohon ciumlah tubuhku lagi, gigitlah tak mengapa, sebab gatal yang kau tinggalkan membuat berkesan.
Hai, nyamuk!

Darah Mimpi
Magelang, 26 September 2017.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *