Benang Harapan

Mentari bersinar terang, fajar menyingsing dengan indah, kupu-kupu silih semilih bercengkerama dengan bunga-bunga. Bunga? Iya, aku rindu akan kebersamaan itu, saat dimana kita berjalan bersama menyusuri taman bunga, ingatanku selalu tercurah padamu, kau sosok seorang wanita yang kali pertama memegang erat tanganku, seorang yang tak selalu ada tapi tetap bersamaku melewati rumitnya dunia. Menerjang badai masalah yang menghantam kehidupanmu juga kehidupanku. Tempatku berbagi airmata dan canda tawa. Tempatku limpahkan segala beban sebagai sandaran di tengah kesendirian. Ada yang bilang, teman, bukan tentang dia yang selalu berjalan beriringan di sampingku, kadangkala, tertinggal bayangan di belakang, atau terlampau cepat nan jauh di depan. Bukan tentang siapa yang selalu menghapus air mata kesedihanku. Juga bukan tentang sosok yang selalu membuatku tertawa. Tapi tentang seseorang yang tetap berdiri di pihakku saat orang lain tidak mempercayaiku. Kau. Ya, kaulah teman itu.

Kini aku berada dalam ruang bercat putih, denganmu. Namun kali ini aku merasa berbeda, kau hanya terdiam. Dan aku tak pernah lagi melihat senyum merekah dari bibirmu, jika karena suatu hal itu kau seperti ini, maka yakinlah, kau pasti bisa. Linangan cairan hitam yang keluar dari rongga mulutmu itu benar-benar mengerikan, membuat ragamu tersiksa. Selang demi selang infus mengaliri cairan penopang hidupmu. Aku duduk di sampingmu merasakan getaran hebat tubuhmu, matamu terbelalak, kau mengerang tanpa sadar. Linangan airmata juga do’a tercurah senantiasa untukmu kawan. Sadarlah! Aku ingin kau kembali, izinkanlah aku ‘tuk bisa tetap bersamamu.

Kau adalah langit tempat bintang-bintang bertabur, yang kusebut harapan, di matamu, entah aku apa, sititik hujan, jatuh untuk menghilang. Dari pandangmu, entah aku siapa, seorang putri kecil, atau kurcaci kerdil. Aku seperti rembulan muram, yang tersungkur pada genangan hujan. Bungkam menatap rimba di kejauhan, dalam gigil berkepanjangan. Dan jika belantara senyummu merupakan alasan, maka jelaskanlah tentang ia yang beriak pada kenangan berkelaluan.

Rasa rindu yang mendekapmu pada malam-malam tanpa impian. Yang mengalir di wajahmu bukanlah airmata, ia hanya ilustrasi dari mimpi-mimpi malam hari. Isak tangis yang terdengar mendayu malam itu hanya ilusi dari rasa simpati. Kau pun mengadu, mencurahkan lara pada Sang Pemilik Dunia. Lantas bangunlah esok pagi sambil tersenyum menyambut hari.

Liara Divya & Indah Wulan Cahya
Karawang, 26 September 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *