“HUJAN”

“Para pengendara hujan”

Saat aku pulang di hari hujan turun, jalanan yang kulalui bisa menjadi bidang luas mempelajari sebuah kehidupan.
Melihat kebelakang–melalui kaca spion yang buram terkena tetesan air–banyak orang-orang yang berjalan bersamaku. Kadang mendahului, kadang pula terkejar. Melintasi jalanan aspal yang basah, aku tidak sendirian. Tapi ya—- tidak pernah ada yang berjalan bersama sampai aku berhenti. Di sepanjang perjalanan, ada banyak yang menyimpang di kiri-kanan jalan, menempuh perjalanan sendiri yang akan membawa pada mimpi masing-masing. Kalau bukan mereka yang menyimpang, maka aku yang berbelok. Mencari jalanku sendiri, mengejar anganku sendiri.

Hujan bulan ini terasa lebih dingin. Dinginnya air yang menyentuh kulit seperti sampai ke tulang. Kabut terlihat menggantung di ujung barisan pegunungan menoreh yang memagari bagian jogja pojok barat.

Jalanan selalu ramai, bahkan saat hujan deras seperti ini. Banyak hal bisa dibikin cerita versi nggak jelas.

Menurut pengamatanku, ada beberapa tipe pengendara di saat hujan.

Pertama, mereka yang tetap berjalan tanpa mantel hujan. Adalah mereka yang tangguh. Mereka yang tetap berdiri meski telah terpukul-pukul oleh dunia. Mereka yakin hujan tak akan membuat mereka sakit, seperti mereka yakin dunia tak akan membuat mereka kalah. Orang-orang seperti mereka, memandang kehidupan hanya sebatas perjalanan sekejap yang akan berakhir ketika rem waktu dari Tuhan telah di jatuhkan. Tetap melaju meski hujan deras menderu, tak perlu payung karena mereka yakin apa yang mereka miliki adalah kekuatan terkuat. Dan diakhir, ketika langkah mereka berakhir di satu titik, waktu akan membuktikan. Yang tetap sehat adalah mereka yang mimpinya paling kuat, yang–meski yakin–tapi akhirnya demam adalah mereka yang disadarkan oleh pencapaian, kamu tidak cukup kuat untuk memiliki mimpi ini.

Ada lagi, mereka yang berjalan dengan mantel hujan. Adalah mereka yang bersungguh-sungguh. Mereka punya segala cara untuk sampai kepada tujuan, termasuk memasang tameng agar hujan tak menerjang langsung pertahanan mereka. Mereka tak pernah kehabisan solusi untuk setiap masalah yang dihadapi, dan tipe orang seperti mereka pasti akan berhasil sampai tujuan kecuali ada force major. Dunia menyambut baik kehadiran orang-orang seperti ini.

Tipe lain orang yang ada di jalan saat hujan turun adalah, mereka yang membawa mantel tetapi enggan memakainya dan lebih memilih berteduh menunggu nasib menghentikan hujan. Lebih memilih menghindari resiko dari pada mencoba hal-hal yang tidak pasti. Mereka tidak sadar bahwa mereka punya kekuatan untuk menghadapi dunia lebih dari siapapun. Tapi lebih memilih berada di zona nyaman, menjalani kehidupan seperti seharusnya. Jika mereka punya sesuatu yang bisa mendorong pergerakan, pencapaian mereka bisa melebihi tipe pengendara pertama dan kedua. Tipe seseorang yang seperti ini biasanya cerdas tetapi tidak menyadari kecerdasannya dan cenderung malas. Mereka dengan mudah bisa dikalahkan oleh kesungguh-sungguhan.

Jenis terakhir datang dari pengendara yang tidak membawa mantel. Saat rintik hujan terasa, mereka langsung menepi. Menatap hujan dengan sendu, memikirkan masa lalu. Dari tepian jalan, mereka menonton pemeran kehidupan. Tidak berani ikut masuk kedalam persaingan. Mereka sadar, mereka tidak punya kekuatan. Bukan salah takdir, seharusnya mereka datang dengan persiapan saat memutuskan memulai sebuah perjalanan. Jika sudah ditengah jalan seperti ini, mereka baru tersadar, hidup bukan hanya soal mengikuti aliran air. Tapi kita perlu sebuah perahu dan dayung. Karena sudah terlanjur melangkah, tidak bisa kembali karena hujan jatuh bukan hanya dari arah depan yang akan dituju. Dari sini, mereka hanya bisa menunggu takdir menjawab do’anya, agar diberi kekuatan bersabar menunggu hujan reda.

Aku sendiri, membuat catatan ini saat sedang berteduh menghindari hujan karena tidak membawa mantel. Karena di pinggir jalan seperti ini, aku bisa saja terkena cipratan air lumpur dari roda yang tak sengaja  melintasi genangan air. Tapi ini adalah resiko buat orang yang tak punya persiapan, bisa dihempas kehidupan kapan saja.

Teoriku di atas tentu saja tidak berdasar, tidak ada penelitian ilmiah soal pengaruh perilaku mengendarai saat hujan dengan sikap seseorang menghadapi kehidupan.
Tapi jalanan bagian barat kota jogja ini, selalu punya hal menarik untuk di amati.

Ada banyak hal sepele yang terlewat tanpa catatan, tapi sebagai orang yang tak punya persiapan, mengamati hal sepele seperti ini bisa jadi penting untuk hiburan.

Rintik hujan di atas aspal perlahan menjadi jarang, langit yang tadinya kelabu mulai membiru.

Saatnya ikut turun ke medan kompetisi meski tanpa persiapan.

Nanti lagi, kalau hujan turun kembali dan aku harus menepi, akan kutulis tentang hal yang lebih sepele. Kepribadian seseorang dilihat dari warna motor misalnya.

Oleh: Dani Hestina P

(Kulon Progo~Di Hari Hujan Turun)
#ThankForRead

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *