Kehilangan Sang Ayah

Gemuruh hujan mengguyur hatiku
Mengisi dada tak berjenuh biru
Ketika aku mendengar kawanku
Bercengkrama manja dengan Ayahnya
“Ayah, bagaimana kabarnya?… Oh Ayah”

Aku mencoba menjemjam jiwa
Menahan seluitan pedang mencincang hati
Hati dan pikiran bergerilya mendebatkan ragaku

pixabay.com

Julaian itu hanya bergelimang-gelimang
Meneteskan sebutir air mata
Membiarkan arusnya terbuka lebar
Isakan tangis itu terdengar di telingaku

Tanpa sadar aku tak bisa menahannya
Selayang pandang aku melihatnya
Berdebam tak menentu kuberkhayal
Seandainya kau datang kembali Ayah!

Satu tapak jejak semut pun tak akan kutampakkan pada mu.
Sungguh! Ayah…
Begitu memaksanya aku memintamu
Tuk kembali ke alur maya ini
Namun inilah realita hakiki rinduku
Karena kehilanganmu begitu menghujam diriku.
Oleh: Lulu’ Ulfiyah Aprilia

(Bangkalan, 12 Juli 2017)

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *