DALAM RENUNGKU

 

Kutikam dalam robusta di tenggorokkan
Setelahnya kubungkam kata dengan gandum jagung
Liurku berkeciprak di dada langit
Serumpun daun pun ranting berpaling
Memijat landas pacu yang siap melontar peluru
Gendang disiapkan
Nada seru para jantan dikoar-koarkan

Semalam habis pembantaian tanpa darah
Cahaya bulan berpawai menuju lelah
Nada dan kata menyelimuti rupa-rupa pemangsa
“Hidup tak sama dengan menulis puisi.
Haluanku tak melulu mengikuti arah angin pergi”
Matamu menari dalam bingkai gelisahku

Seberapa pedih esok hari adalah gumulku dalam rindu
Merenung pilu
Melontar gerak semu untuk mendekapmu
Lagi sebelum terbujur kaku
Dan tak sedikit kupeduli pada sejarah yang dijajah oleh pancaroba
Mendera skema terbaik
Rata tanah kucabik dalam pagut terpaksa
Tak menahan apapun

Karya: Burung Gereja 

Langit Selatan, 17 September 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *