Ayah

 

hanya setampah tawa
bermakna untuk terlupa
lalu tertahan luka
bulir-bulir duka yang mengalir
lantas terseka
oleh pengharapan tak berguna

ia tetap terbilang
meski ringkihnya tak jua pulang
ia tetap kubagi
pada hari-hari yang kujelajahi
sebagai denah langkah
yang mesti kuteladani

dan senja yang kau jaminkan
kini telah kadaluwarsa
renta terluka lalu menua
menggilas waktu dengan usia
kita pun hanya menjadi puisi-puisi
yang merindukan antologi

Liara Divya

Rengasdengklok16 September 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *