Cerminnya di Tubuhmu

Karenamu orang-orang membuka kelopak mata. Kau bimbing lelap merayakan kebangkitan fajar. Menjernihkan cahaya yang meredup di sepertiga malam. Kau pun mampu mengalirkan ide liar di ubun para pujangga.


Peringaimu setia dalam kecupan bibir-bibir penikmat malam. Mereka tidak mungkin melupakan sosokmu yang mencairkan gigil di musim-musim penghujan, aroma tubuhmu telah mengendap di jiwa mereka. Jika kau tidak tersandar barang sejenak di kotak hening, mereka akan melangkah ringan untuk mendapatkanmu, meskipun harus meringkas jarak berkilo-kilo meter menerobos gerimis di perempatan jalan.
Dirimu mengingatkanku pada sosok pelindung. Ia orang yang menegakkan langkah tumbangnya demi menghidupiku. Berusaha menambal kekurangan permohonan hawa nafsuku dengan letihnya yang diabaikan di punggung-punggung malam. Menarik hatiku, mengelus ubunku meninggalkan berkas-berkas rindu yang tidak pernah mampu dihanguskan.
Ia sering kali terdiam di beranda rumah, menanggalkan penatnya seharian bertempur dengan terik dan buliran air mata langit denganmu. Semula menatap permukaan tubuhmu dengan ekspresi datar, tidak tersenyum tidak juga cemberut. Lantas menikmati tubuhmu, merasakan pahit yang melekat erat di lidahnya, lantas meresapi manisnya gula yang tersatukan.
Ia pernah bercerita padaku, bahwa dirimu adalah cerminan kehidupan seseorang yang semula getir berakhir dengan kesenangan. Tidak ada keburukan dan penderitaan abadi, semua problema yang terjadi justru merupakan pemanis hidup itu sendiri, kelak rasa pahit itu akan menjadi cerita indah akan dikenang sejarah.
Hal tersebut sudah sering disampaikan orang lain juga sering kutemui di dalam buku bacaan. Entah mengapa, kalimat yang berkarak di dalam akalku, hanya kalimatnya. Mungkinkah itu tersebab dirimu sangat berarti baginya?
Setiap serbuk yang dituangkan di dalam cangkir membuatku mengingat sentuhan tangan kasarnya. Wajahnya memantul di permukaan tubuhmu yang masih mengepulkan asap. Bagiku kau bukan cerminan kehidupan pahit, melainkan cairan hitam yang mengabadikan wajah lelahnya di penghujung malam.
Kopi dan Ayah.

Darah Mimpi
Magelang, 16 September 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *