Bibir-bibir Kecut di Tempat Asing

 

Lelaki itu tersenyum sinis di tempatnya berdiam. Berkali-kali menggelengkan kepalanya, heran. Kemana pun langkah dipijakkan, pada sudut ruang asing yang dianggapnya menggairahkan bulatnya bola mata, selalu saja didapatinya sepasang bibir atas dan bawah yang monyong ke depan, atau menganga, membukakan pintu menyambut nyamuk untuk mencicipi air liurnya. Bibir yang basah, dipoles warna merah membuatnya merekah, membangunkan pikiran kotor yang setiap detik susah payah untuk membunuhnya. Jika, ia tak tahan  maka menjarah wajah putih-putih yang dilumuri kecantikan palsu, hendak menyentil bulu mata yang dilentikkan oleh maskara, atau menarik hidung tak mancung yang dianggapnya menggemaskan tersebut. Bibir-bibir itu tidak jarang meringis sangat manis, namun terkadang berubah tanpa hitungan menit menjadi bibir yang centil. Ia menyatukan dua buah kata untuk menarik sebuah makna dari kalimat, ‘senyum kebohongan’ berujung pada rahasia ritual pengabadian momentum.

“Ayo pergi,” kawan yang ada di sisinya juga mulai bosan. Ia singgah ke tempat wisata alam. Orang yang berada di sisinya, menyandang ransel dengan setumpuk buku di dalamnya, lensanya mendapat pertolongan dari kaca tebal. Ia merengek diantar ke tempat yang mengasikkan.

“Kak Evan! Ajak aku pergi ke tempat sejuk! Kuhadiahi kau satu gelas es teh manis!” Serunya dahulu ketika mereka berada di perpustakaan kampus. Mencari-cari sumber pengetahuan untuk meringkas pemahaman dunia.  Ia melenguh sebal seraya meletakkan sebuah buku filsafat ke raknya.

“Ke mana?”

“Aku ingin lihat pemandangan, Kak!”

Sebab sebaris kata yang dirangkai oleh sahabat di sisinya, kini ia terjebak dalam lorong waktu yang tiga kali lipat membosankan.

Air sungai mengarus tenang. Bebatuan berdiam diri di tempatnya. Beberapa orang loncat di atasnya, sebagian duduk bermanja-manja, merendam dua kaki ke dalam tubuhnya yang jernih, menggoyangkan jemari-jemarinya anggun. Surya menerobos masuk ke dalam hutan, hangat bertempur dengan dingin. Udara sejuk, pepohonan menjulang tinggi dengan daun rimbunnya, seakan menutup wajah langit yang tak sedang menangis. Ya! Hutan! Sebuah ruang yang menyimpan air terjun.

Penduduk setempat membangun wisata alam, mendirikan gazebo-gazebo bambu di tebing-tebing, menanami bunga mawar, bunga kemboja yang kaya warna, juga membersihkan rerumputan. Gemiricik air sungai terdengar nyaman oleh telinga terpadukan dengan kicau burung-burung alam yang sedang beratraksi di langit biru itu. Cumulus menggumpal-gumpal di langit. Menaburkan bunga putih sebagai penghias atmosfer.

“Kau suka dengan tempat ini, Ris?” Ia menatap wajah sahabatnya. Wajah yang dilumuri dengan tiga jerawat di pipi kanannya. Alisnya sejenak dikedipkan. Pemuda beralmamater kampus itu menerawang sekitar. Tersenyum sinis memperhatikan gerakan seorang gadis yang ditafsirnya baru berumur 23 tahun, menggeraikan rambutnya di samping, menjulurkan lidah keluar di hadapan layar pintar. Gadis itu jelita, diakuinya lebih menggemaskan ketimbang kawan yang kini melamun heran di sisinya, bibirnya merah menawan, pipinya putih tampak licin, poni yang dijuntaikan di depan kening, bulu matanya yang lentik, kulit lengan mulus, giginya rapi dan berseri, ketika bibirnya mengembang amatlah manis. Ah, sungguh beruntung pemuda yang mendapatkan hatinya. Begitulah birahi menggumam.

“Aku suka dengan alamnya!” Kharisma mengutarakan sebuah pendapat. “Namun aku bosan, setiap ruang dipenuhi dengan orang-orang pamer wajah palsu, Kak!”

Evan tersenyum sinis. Mereka berdua mencari tempat duduk. Bangku panjang menjadi sandaran penat, empat mata menyisir keriuhan yang diciptakan pengunjung. Keduanya sama memusatkan perhatian pada jembatan merah penghubung yang tergantung di atas sungai. Orang bergandengan melangkah hilir-mudik, mereka adalah kura-kura yang sedang berlari dengan pasangan masing-masing. Jika tiba di pusar tubuh jembatan, istirahat sejenak, memoncongkan bibir, berlagak seperti sosok yang meminta dicumbu. Tak lama kemudian, mengubah adegan, memekarkan telapak tangan di depan dagu dengan senyum yang diramu agar terkesan manis sepanjang masa, beralih posisi, tubuh direnggangkan, tangan direntangkan, air terjun yang luruh dari tebing menjadi bigron terindah dalam kenangan. Mereka berdalih sedang mengabadikan momen.

“Apakah mereka menikmati tempat ini, Kak?”

“Menurutmu?”

“Mereka hanya terkesan dengan keindahannya sejenak, kuyakin mereka tidak sempat merenungi bahwa tempat indah ini miliknya zat yang menganugerahi kecantikan wajah-wajah mereka,”

“Kau tepat sekali Ris. Mereka tidak sempat memikirkan hal itu,”
“Apakah foto-foto itu akan menjadi berharga?”

“Menurutmu?”

“Berharga sebab mereka tentu akan melihatnya sepulang dari tempat ini.”

“Jangan selalu berpikir baik, bisa saja itu hanya pamer untuk diunggah ke media sosial!”

Hei!” Kharisma geram, ia menjitak kepala Evan. Pemuda yang nyaris seumur hidupnya senantiasa di sisi. Ekspresi tak senang mengembang. “Jangan berprasangka buruk!”

“Kau saja yang sering berpikir sok baik!”

“Kak Evan!”

“Ris, aku tidak suka gadis-gadis yang gemar selfie di sembarang tempat?”

“Berilah aku alasan yang kuat agar aku tidak menyangkal pendapatmu!”

“Dasar kutu buku!”

Kharisma nyengir. Evan menarik lengannya mengajak mengasingkan diri dari bibir-bibir tak jelas itu. Mereka melewati jembatan, mengacuhkan orang di sekitar yang sedang beratraksi dengan kamera genggamnya, angkuh meskipun sebuah tongsis nyaris memukul keningnya, si pemilik tak ucap maaf, hanya meringis tanpa mengemban dosa sedikit pun. Empat kaki meloncati bebatuan yang berserakan di sungai. Pemuda itu mengajak Kharisma terjun ke wahana yang lebih mengasyikkan bola pandangan. Sesekali pijakannya sengaja dilesatkan untuk menumbuhkan percikan air. Membuat gadis dengan beban ranselnya di punggung itu menggerutu. Mereka mendekati air terjun. Menenggelamkan kaki setengah lutut. Air membuat kain yang dikenakan basah, mereka tetap menikmati sensasi yang diberikan oleh alam. Mentari membias di permukaan. Membeningkan air yang tenang diapit bebatuan besar. Mereka duduk di punggung cadas.

Wah! Kak tempatnya kalau didekati terlihat menakjubkan! Air terjun itu! Sungguh mempesona, sungai seakan diruntuhi keajaiban! Tapi… “ ia melirik sekitar. Jembatan disesaki dengan penyebrang. Gazebo dipadati pengujung. Taman kecil dijadikan tempat pamer tubuh meliuk ke kanan dan ke kiri. Pohon-pohon besar yang tumbuh di tepian jalan masuk dijadikan tempat berteduh dengan menjilatkan wajah ke depan lensa. “Kenapa mereka tak menginjakkan kaki di sini, Kak?”

Satu rombongan, 5 orang meloncati bebatuan. Ransel menggelantung di punggung. Sebagian dari mereka mengenakan jas, beberapa menggulung celana sampai lutut, sisanya acuh, fokus dengan bidang yang dijejakinya. Mereka, kau tebak anak kampus. “Ini LUAR BIASA!” Jerit seseorang yag tak dikenalnya.

“Tidak semua, Ris! Lihat orang di belakang kita!”

Hmmm, ya kau benar! “

“Mereka juga salah satu hal yang akan aku jadikan alasan untuk memperkuat pendapatku.”

“Tentang para gadis yang selfie?”

Evan menjawab dengan anggukan. Ia mengambil posisi duduk di atas batu yang sedikit cekung. Kakinya diayun-ayunkan mempermainkan riak sungai.

“Kalau mereka terkena air, cantiknya nanti pudar!”

“Kak! Jangan bicara sembaranganlah!”

“Aku mulai mengungkapkan alasan! Jangan memotong ucapanku terlebih dahulu dong!”

Gadis itu diam. Ia ikut duduk di sisi Evan, menikmati alam yang menggairahkan. Sesekali menatap pelangi yang memamerkan keindahannya di sisi air terjun, cahaya mentari memantul, menciptakan keindahan yang nyaris punah dalam kehidupan ini. “Ris, mereka adalah orang yang larut dengan kecantikan sesaat!”

“Maksudmu? Aku kurang paham!”
“Andaikan mereka mempunyai kebiasaan membaca buku, mereka kutaksir jarang yang akan selfie di sembarang tempat, hanya dengan alasan mengikuti trend masa kini, atau agar dikira gaul.”

“Kenapa seperti itu?”

“Otak mereka kosong, Ris! Mereka kurang sumber untuk memahami setiap kejadian-kejadian yang ada di dalam muka bumi ini, akhirnya mereka mudah terbawa arus zaman yang ada sisi negatifnya. Kau renungi kalimatku, ya Ris!” Gadis itu menatap wajah Evan dengan serius. Mengamati gerak bibirnya yang sedang berbicara kritis.

“Dampak dari selfie, andaikan mereka tahu saat dipandang oleh lelaki yang pikirannya terkadang kotor sepertiku, bernafsu mengamati bibirnya, juga kadang tertarik dengan lidah yang sedang dijulurkan. Tergoda dengan parasnya yang dibuat semanis mungkin, lantas imajinasi ditinggikan ke tempat lain. Apakah itu tidak menjadi dosa?”

“Tapi tidak semua orang seperti itu! Kenyataanya banyak lelaki yang melakukan tindakan konyol itu,”

“Kau bilang banyak? Coba beri aku data yang akurat! Menurutku jarang lelaki selfie di tempat umum.”

“Sepertinya aku harus meneliti hal ini terlebih dahulu,”

Seorang pemuda melepas kemejanya. Ia menitipkan ransel di punggungnya pada kawannya. Tanpa menunggu lama langsung menceburkan diri di hadapan air terjun. Kemudian memunculkan kepalanya ke atas, berteriak lantang sembari mengacungkan jempol. “Indonesiaku! Aku mencintaimu!”

‘Cekrek!’

“Orang itu, adalah orang yang percaya diri! Dia tidak sedang berselfie loh Kak!”  Kharisma waspada.

“Aku tahu. Ayo pulang!”
“Lah kenapa pulang?”
“Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu!” Kharisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mau tak mau ia menuruti ajakan Evan.

Mereka keluar dari tempat wisata. Menuju parkiran, bergegas mengarahkan mobilnya keluar, Kharisma membuka kaca mobil, mengulurkan tiket pakir keluar kepada penjaga. Jalan turunan tajam diterjuni, tanjakan didaki. Medan beliku-liku, pepohonan rindang menjulang di sisi-sisi jalan. Truk-truk besar terkadang menyalip mereka dengan muatan pasir atau batu di tubuh belakangnya. Alam raya diciptakan dengan perbedaan, dengan kecantikan yang berupa ragam. Namun, terkadang banyak manusia yang acuh. Menimbulkan sebuah kalimat yang kerap membuat batin tersayat. “Kharisma coba kau perhatikan alam sekitar!”

Tebing dan jurang terdampar di sisi jalan.

Kembali Kharisma mengalihkan pandangan keluar.

“Jarang orang foto di tepi jalan seram itu,”

“Ya jelaslah Kak! Resikonya jika terjungkal, nyawa melayang!”

“Sekarang kamu bisa menyimpulkannya sendiri bukan?” Ia melambankan kemudi. Sesekali melirik ke kanan dan ke kiri mengamati panorama sekitar. Kini, ladang dengan tanaman sayur dan cabai yang membentang.

“Orang mencari keindahan untuk diabadikan?”

“Bukan.”

“Lantas?”
“Mereka hanya mengikuti trend kamera dengan kualitas tinggi di ponsel pintar yang dibawa. Jatuh hati pula dengan aplikasi yang mampu memoles wajahnya menjadi menawan.” Ungkapnya lagi. “Kau suka selfie dengan bibir monyong sana monyong sini?” Kharisma menjitak kepala Evan, ia melotot geram.

“Tindakan yang kurang berpendidikan! Orang kurang kerjaan. Ampunlah jika aku sampai seperti itu, apalagi kecanduan sehingga tidak malu foto di tempat-tempat umum, ciaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….” Mendadak ia menjerit. Menangkupkan dua jemari di depan wajah. Akalnya membayangkan dirinya sedang berekspresi di hadapan lensa, terseyum semanis madu, namun seusai kilat padam kembali cemberut, “bukan! Itu  bukan aku!”

Evan terbahak. “Orang yang paham, memang jarang selfie seperti itu, Ris.”

“Paham maksudnya?”

“Aku tahu kau pura-pura bodoh! Berpikirlah mendalam, jangan banyak bertanya!”

Kini Kharisma yang tertawa. Evan mengerem kalimatnya. Pikirannya teralihkan pada dimensi yang berbeda.  Matanya tak berkedip memandangi gulungan ombak yang lari menuju bibir pantai. Karang-karang dibentur, tubuhnya pun berserak, menimbulkan buih juga cairan yang hambur di udara. Birunya lautan memanjakan pemandangan. Awan di langit berarak putih bersinar tertimpa tempias mentari yang sedang semringah. Dari kejauhan tampak burung bangau sedang mengintai ikan-ikan yang lompat di permukaan.

Pengunjung pantai asyik memainkan kamera. Yang dewasa mencari gaya-gaya unik. Sementara anak-anak sibuk bermain pasir, hanya beberapa yang berenang di tepian menyambut gulungan ombak. Orang-orang telah berkeliaran mendaki bukit kecil di sisi pantai, mencari tempat terindah untuk dijadikan bigron tubuhnya. Pemandangan pantai di bawahnya dengan gulungan ombak yang riang menjadi sketsa alam yang mengagumkan. Ia merasa karakter manusia telah terkikis zaman. Dahulu, orang bersantai ria di pesisir, bercengkrama dengan anak yang membangun istana dari pasir. Saling kejar mengejar, bermain air. Kini, semuanya memang belum punah, namun perlahan memudar. Banyak orang bergandengan tangan, melepas topi pantai yang dianyam dari bambu pilihan, mengibarkannya di udara, lantas cekrek! Pemuda mendaki karang yang tinggi, merentangkan tangan, berujung cekrek! Rombongan sahabat saling menumpukan lengan di pundak mereka, tersenyum indah, kemudian cekrek!

Ah, itu lebih bagus daripada sekadar selfie sendirian.” Ungkapnya tiba-tiba. Waktu kembali menyeretnya pada zona yang sedang dialami.

“Apanya?” Kharisma menanggapi. “Apa yang bagus?”
“Kau lihat?” Lagi-lagi Evan mengarahkan Kharisma untuk menatap keluar. Tidak menceritakan memorinya yang baru saja mengenang masa silam.

Mereka telah tiba di sebuah pasar penduduk. Barang-barang terjual di toko-toko sederhana pinggiran jalan. Ada pula yang sekadar menggelar tikar di emperan, menjajakan sembako, juga sayur dan buah-buahan. Keadaan semrawut, langkah kaki menerjang jalan raya sembarang. Memaksa Evan harus ekstra hati-hati juga memelankan setirnya. Tampak beberapa kuli gendong yang menjadikan punggungnya sebagai kursi bagi beban-beban pasar. Suara bising, orang-orang membuat ruangan terbuka itu berisik dengan transaksi tawar-menawar barang. Ada yang sampai ngotot sehingga air liunya muntah.

Namun bukan itu yang Evan perhatikan. Sebuah pelajaran moral. “Kharisma, adakah di sana yang memegang layar ponsel dan foto di samping dagangan?”

Gadis itu sudah jelas menggelengkan kepala. “Kalau kau ke mall besar? Adakah?”

Kharisma mengangguk. “Sekarang kau tahu apa maksudku?”

Kharisma tersenyum sinis.

Roda melaju lagi. Lima kuli bangunan sedang merakit sebuah gedung kecil di pinggiran jalan. Ada yang membangun pondasi, ada yang membuat adonan semen. Wajah mereka masam tersengat sinar mentari yang tajam. Kulit mereka hitam legam. Baju yang dikenakan kaos sembarang, ada yang bolong dipadukan dengan celana cekak lusuh. “Apakah mereka sempat selfie?”

Kharisma menggeleng. “Tapi bisa jadi anak mereka kecanduan selfie di balkon rumah, atau taman-taman kota.”

Evan menambah kecepatan. Gadis di sisinya membenarkan letak kaca mata. Merenungi setiap kalimat yang diuraikan kawannya, ya kawan hidupnya yang sering mengganggunya setiap hari. Nyawa yang diikat dengan tali persaudaraan. Evan putra dari kakak ayahnya. Mereka tinggal di dalam rumah dengan atap yang sama.

Mereka tiba di rumah. Langsung memarkir mobil di halaman. Keluarga berkumpul di teras, duduk di kursi yang sering digunakan nenek mereka menikmati waktu senja. Sebuah kardus telepon selular tergeletak tak berdaya di atas meja. Ibu Kharisma menyambut dengan senyuman, Ayah Evan melambaikan tangan. “Anakku yang tampan sudah pulang dari kampus?”

Nenek menampilkan gigi depannya yang tanggal dua. Ibu Evan baru saja keluar membawa nampan membawa soft drink yang baru saja diambil dari kulkas. Ia menatap wajah putranya dengan pancaran senyum yang indah. Sayang yang dipandang justru menganga tak yakin.

“Lihat cucu-cucuku, Oma sekarang bisa selfie!” Kata Nenek sambil mengarahkan ponsel di hadapan wajahnya.

“OMAAAAAA!!!!!!” Jerit mereka bersamaan.

“JANGAN SELFIE!” Masih serempak.

Kelopak mawar yang sedang mekar mendadak gugur. Keluarga kompak heran. Angin berbisik ‘siapa yang membelikan Oma ponsel?’

Darah Mimpi

Magelang, 22 Juni 2016.

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *