Air Malapetaka

Di bawah gapura aku menggapai langkah
Tak aku hiraukan guruh dan kilat menyayat jantung hati
Dingin malam sungguh mencekam
Kursi melayang menjadi saksi bisu perjalanan
Darah seakan membeku
Merajut semua mimpi yang semakin lemah

pixabay.com

Hitam garis bibir tak menyurutkan jejakku
Kala itu mimpi membumbung tinggi menaung rindu
Senyuman tersirat di balik suka dan duka
Tak pernah kau pedulikan, karena yang kau tahu
Hanyalah maju dan terus maju
Wahai mimpi tunggulah aku di sana

Indah Wulan Cahya
Jakarta, 25 Mei 2017

Please follow and like us:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *